Raden Ajeng Kartini (1879-1904)

Pejuang Kemajuan Wanita.

Door Duistermis tox Licht, Habis Gelap Terbitlah Terang, itulah judul buku dari kumpulan surat-surat Raden Ajeng Kartini yang terkenal. Surat-surat yang dituliskan kepada sahabat-sahabatnya di negeri Belanda itu kemudian menjadi bukti betapa besarnya keinginan dari seorang Kartini untuk melepaskan kaumnya dari diskriminasi yang sudah membudaya pada zamannya.

Buku itu menjadi pedorong semangat para wanita Indonesia dalam memperjuangkan hak-haknya. Perjuangan Kartini tidaklah hanya tertulis di atas kertas tapi dibuktikan dengan mendirikan sekolah gratis untuk anak gadis di Jepara dan Rembang.

Upaya dari puteri seorang Bupati Jepara ini telah membuka penglihatan kaumnya di berbagai daerah lainnya. Sejak itu sekolah-sekolah wanita lahir dan bertumbuh di berbagai pelosok negeri. Wanita Indonesia pun telah lahir menjadi manusia seutuhnya.

Di era Kartini, akhir abad 19 sampai awal abad 20, wanita-wanita negeri ini belum memperoleh kebebasan dalam berbagai hal. Mereka belum diijinkan untuk memperoleh pendidikan yang tinggi seperti pria bahkan belum diijinkan menentukan jodoh/suami sendiri, dan lain sebagainya.

Kartini yang merasa tidak bebas menentukan pilihan bahkan merasa tidak mempunyai pilihan sama sekali karena dilahirkan sebagai seorang wanita, juga selalu diperlakukan beda dengan saudara maupun teman-temannya yang pria, serta perasaan iri dengan kebebasan wanita-wanita Belanda, akhirnya menumbuhkan keinginan dan tekad di hatinya untuk mengubah kebiasan kurang baik itu.

Pada saat itu, Raden Ajeng Kartini yang lahir di Jepara, Jawa Tengah pada tanggal 21 April 1879, ini sebenarnya sangat menginginkan bisa memperoleh pendidikan yang lebih tinggi, namun sebagaimana kebiasaan saat itu dia pun tidak diizinkan oleh orang tuanya.

Dia hanya sempat memperoleh pendidikan sampai E.L.S. (Europese Lagere School) atau tingkat sekolah dasar. Setamat E.L.S, Kartini pun dipingit sebagaimana kebiasaan atau adat-istiadat yang berlaku di tempat kelahirannya dimana setelah seorang wanita menamatkan sekolah di tingkat sekolah dasar, gadis tersebut harus menjalani masa pingitan sampai tiba saatnya untuk menikah.

Merasakan hambatan demikian, Kartini remaja yang banyak bergaul dengan orang-orang terpelajar serta gemar membaca buku khususnya buku-buku mengenai kemajuan wanita seperti karya-karya Multatuli “Max Havelaar” dan karya tokoh-tokoh pejuang wanita di Eropa, mulai menyadari betapa tertinggalnya wanita sebangsanya bila dibandingkan dengan wanita bangsa lain terutama wanita Eropa.

Dia merasakan sendiri bagaimana ia hanya diperbolehkan sekolah sampai tingkat sekolah dasar saja padahal dirinya adalah anak seorang Bupati. Hatinya merasa sedih melihat kaumnya dari anak keluarga biasa yang tidak pernah disekolahkan sama sekali.

Sejak saat itu, dia pun berkeinginan dan bertekad untuk memajukan wanita bangsanya, Indonesia. Dan langkah untuk memajukan itu menurutnya bisa dicapai melalui pendidikan. Untuk merealisasikan cita-citanya itu, dia mengawalinya dengan mendirikan sekolah untuk anak gadis di daerah kelahirannya, Jepara. Di sekolah tersebut diajarkan pelajaran menjahit, menyulam, memasak, dan sebagainya. Semuanya itu diberikannya tanpa memungut bayaran alias cuma-cuma.

Bahkan demi cita-cita mulianya itu, dia sendiri berencana mengikuti Sekolah Guru di Negeri Belanda dengan maksud agar dirinya bisa menjadi seorang pendidik yang lebih baik. Beasiswa dari Pemerintah Belanda pun telah berhasil diperolehnya, namun keinginan tersebut kembali tidak tercapai karena larangan orangtuanya. Guna mencegah kepergiannya tersebut, orangtuanya pun memaksanya menikah pada saat itu dengan Raden Adipati Joyodiningrat, seorang Bupati di Rembang.

Berbagai rintangan tidak menyurutkan semangatnya, bahkan pernikahan sekalipun. Setelah menikah, dia masih mendirikan sekolah di Rembang di samping sekolah di Jepara yang sudah didirikannya sebelum menikah. Apa yang dilakukannya dengan sekolah itu kemudian diikuti oleh wanita-wanita lainnya dengan mendirikan ‘Sekolah Kartini’ di tempat masing-masing seperti di Semarang, Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, dan Cirebon.

Sepanjang hidupnya, Kartini sangat senang berteman. Dia mempunyai banyak teman baik di dalam negeri maupun di Eropa khususnya dari negeri Belanda, bangsa yang sedang menjajah Indonesia saat itu. Kepada para sahabatnya, dia sering mencurahkan isi hatinya tentang keinginannya memajukan wanita negerinya. Kepada teman-temannya yang orang Belanda dia sering menulis surat yang mengungkapkan cita-citanya tersebut, tentang adanya persamaan hak kaum wanita dan pria.

Setelah meninggalnya Kartini, surat-surat tersebut kemudian dikumpulkan dan diterbitkan menjadi sebuah buku yang dalam bahasa Belanda berjudul Door Duisternis tot Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang). Apa yang terdapat dalam buku itu sangat berpengaruh besar dalam mendorong kemajuan wanita Indonesia karena isi tulisan tersebut telah menjadi sumber motivasi perjuangan bagi kaum wanita Indonesia di kemudian hari.

Apa yang sudah dilakukan RA Kartini sangatlah besar pengaruhnya kepada kebangkitan bangsa ini. Mungkin akan lebih besar dan lebih banyak lagi yang akan dilakukannya seandainya Allah memberikan usia yang panjang kepadanya. Namun Allah menghendaki lain, ia meninggal dunia di usia muda, usia 25 tahun, yakni pada tanggal 17 September 1904, ketika melahirkan putra pertamanya.

Mengingat besarnya jasa Kartini pada bangsa ini maka atas nama negara, pemerintahan Presiden Soekarno, Presiden Pertama Republik Indonesia mengeluarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No.108 Tahun 1964, tanggal 2 Mei 1964 yang menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional sekaligus menetapkan hari lahir Kartini, tanggal 21 April, untuk diperingati setiap tahun sebagai hari besar yang kemudian dikenal sebagai Hari Kartini.

Belakangan ini, penetapan tanggal kelahiran Kartini sebagai hari besar agak diperdebatkan. Dengan berbagai argumentasi, masing-masing pihak memberikan pendapat masing-masing. Masyarakat yang tidak begitu menyetujui, ada yang hanya tidak merayakan Hari Kartini namun merayakannya sekaligus dengan Hari Ibu pada tanggal 22 Desember.

Alasan mereka adalah agar tidak pilih kasih dengan pahlawan-pahlawan wanita Indonesia lainnya. Namun yang lebih ekstrim mengatakan, masih ada pahlawan wanita lain yang lebih hebat daripada RA Kartini. Menurut mereka, wilayah perjuangan Kartini itu hanyalah di Jepara dan Rembang saja, Kartini juga tidak pernah memanggul senjata melawan penjajah. Dan berbagai alasan lainnya.

Sedangkan mereka yang pro malah mengatakan Kartini tidak hanya seorang tokoh emansipasi wanita yang mengangkat derajat kaum wanita Indonesia saja melainkan adalah tokoh nasional artinya, dengan ide dan gagasan pembaruannya tersebut dia telah berjuang untuk kepentingan bangsanya. Cara pikirnya sudah dalam skop nasional.

Sekalipun Sumpah Pemuda belum dicetuskan waktu itu, tapi pikiran-pikirannya tidak terbatas pada daerah kelahiranya atau tanah Jawa saja. Kartini sudah mencapai kedewasaan berpikir nasional sehingga nasionalismenya sudah seperti yang dicetuskan oleh Sumpah Pemuda 1928.

Terlepas dari pro kontra tersebut, dalam sejarah bangsa ini kita banyak mengenal nama-nama pahlawan wanita kita seperti Cut Nya’ Dhien, Cut Mutiah, Nyi. Ageng Serang, Dewi Sartika, Nyi Ahmad Dahlan, Ny. Walandouw Maramis, Christina Martha Tiahohu, dan lainnya.

Mereka berjuang di daerah, pada waktu, dan dengan cara yang berbeda. Ada yang berjuang di Aceh, Jawa, Maluku, Menado dan lainnya. Ada yang berjuang pada zaman penjajahan Belanda, pada zaman penjajahan Jepang, atau setelah kemerdekaan. Ada yang berjuang dengan mengangkat senjata, ada yang melalui pendidikan, ada yang melalui organisasi maupun cara lainnya. Mereka semua adalah pejuang-pejuang bangsa, pahlawan-pahlawan bangsa yang patut kita hormati dan teladani.

Raden Ajeng Kartini sendiri adalah pahlawan yang mengambil tempat tersendiri di hati kita dengan segala cita-cita, tekad, dan perbuatannya. Ide-ide besarnya telah mampu menggerakkan dan mengilhami perjuangan kaumnya dari kebodohan yang tidak disadari pada masa lalu. Dengan keberanian dan pengorbanan yang tulus, dia mampu menggugah kaumnya dari belenggu diskriminasi.

Bagi wanita sendiri, dengan upaya awalnya itu kini kaum wanita di negeri ini telah menikmati apa yang disebut persamaan hak tersebut. Perjuangan memang belum berakhir, di era globalisasi ini masih banyak dirasakan penindasan dan perlakuan tidak adil terhadap perempuan.

Itu semua adalah sisa-sisa dari kebiasaan lama yang oleh sebagian orang baik oleh pria yang tidak rela melepaskan sifat otoriternya maupun oleh sebagian wanita itu sendiri yang belum berani melawan kebiasaan lama. Namun kesadaran telah lama ditanamkan kartini, sekarang adalah masa pembinaan. [*]TokohIndonesia/DPT

***
Biografi
Nama: Raden Ajeng Kartini
Lahir: Jepara, Jawa Tengah, tanggal 21 April 1879
Meninggal: Tanggal 17 September 1904, (sewaktu melahirkan putra pertamanya)
Suami: Raden Adipati Joyodiningrat, Bupati Rembang
Pendidikan:  E.L.S. (Europese Lagere School), setingkat sekolah dasar

Prestasi:
– Mendirikan sekolah untuk wanita di Jepara
– Mendirikan sekolah untuk wanita di Rembang

Kumpulan surat-surat:
– Door Duisternis tot Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang).

Penghormatan:
– Gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional
– Hari Kelahirannya tanggal 21 April ditetapkan sebagai hari besar

RM Sosroningrat

 

 

 

 

 

Raden Adjeng Kartini adalah seseorang dari kalangan priyayi atau kelas bangsawan Jawa, putri Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, bupati Jepara. Ia adalah putri dari istri pertama, tetapi bukan istri utama. Ibunya bernama M.A. Ngasirah, putri dari Nyai Haji Siti Aminah dan Kyai Haji Madirono, seorang guru agama di Telukawur, Jepara. Dari sisi ayahnya, silsilah Kartini dapat dilacak hingga Hamengkubuwana VI.

Ayah Kartini pada mulanya adalah seorang wedana di Mayong. Peraturan kolonial waktu itu mengharuskan seorang bupati beristerikan seorang bangsawan. Karena M.A. Ngasirah bukanlah bangsawan tinggi[2], maka ayahnya menikah lagi dengan Raden Adjeng Woerjan (Moerjam), keturunan langsung Raja Madura. Setelah perkawinan itu, maka ayah Kartini diangkat menjadi bupati di Jepara menggantikan kedudukan ayah kandung R.A. Woerjan, R.A.A. Tjitrowikromo.

Kartini adalah anak ke-5 dari 11 bersaudara kandung dan tiri. Dari kesemua saudara sekandung, Kartini adalah anak perempuan tertua. Kakeknya, Pangeran Ario Tjondronegoro IV, diangkat bupati dalam usia 25 tahun. Kakak Kartini, Sosrokartono, adalah seorang yang pintar dalam bidang bahasa. Sampai usia 12 tahun, Kartini diperbolehkan bersekolah di ELS (Europese Lagere School). Di sini antara lain Kartini belajar bahasa Belanda. Tetapi setelah usia 12 tahun, ia harus tinggal di rumah karena sudah bisa dipingit.

Karena Kartini bisa berbahasa Belanda, maka di rumah ia mulai belajar sendiri dan menulis surat kepada teman-teman korespondensi yang berasal dari Belanda. Salah satunya adalah Rosa Abendanon yang banyak mendukungnya. Dari buku-buku, koran, dan majalah Eropa, Kartini tertarik pada kemajuan berpikir perempuan Eropa. Timbul keinginannya untuk memajukan perempuan pribumi, karena ia melihat bahwa perempuan pribumi berada pada status sosial yang rendah.

Kartini banyak membaca surat kabar Semarang De Locomotief yang diasuh Pieter Brooshooft, ia juga menerima leestrommel (paket majalah yang diedarkan toko buku kepada langganan). Di antaranya terdapat majalah kebudayaan dan ilmu pengetahuan yang cukup berat, juga ada majalah wanita Belanda De Hollandsche Lelie. Kartini pun kemudian beberapa kali mengirimkan tulisannya dan dimuat di De Hollandsche Lelie. Dari surat-suratnya tampak Kartini membaca apa saja dengan penuh perhatian, sambil membuat catatan-catatan. Kadang-kadang Kartini menyebut salah satu karangan atau mengutip beberapa kalimat. Perhatiannya tidak hanya semata-mata soal emansipasi wanita, tapi juga masalah sosial umum. Kartini melihat perjuangan wanita agar memperoleh kebebasan, otonomi dan persamaan hukum sebagai bagian dari gerakan yang lebih luas. Di antara buku yang dibaca Kartini sebelum berumur 20, terdapat judul Max Havelaar dan Surat-Surat Cinta karya Multatuli, yang pada November 1901 sudah dibacanya dua kali. Lalu De Stille Kraacht (Kekuatan Gaib) karya Louis Coperus. Kemudian karya Van Eeden yang bermutu tinggi, karya Augusta de Witt yang sedang-sedang saja, roman-feminis karya Nyonya Goekoop de-Jong Van Beek dan sebuah roman anti-perang karangan Berta Von Suttner, Die Waffen Nieder (Letakkan Senjata). Semuanya berbahasa Belanda.

Oleh orangtuanya, Kartini disuruh menikah dengan bupati Rembang, K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, yang sudah pernah memiliki tiga istri. Kartini menikah pada tanggal 12 November 1903. Suaminya mengerti keinginan Kartini dan Kartini diberi kebebasan dan didukung mendirikan sekolah wanita di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor kabupaten Rembang, atau di sebuah bangunan yang kini digunakan sebagai Gedung Pramuka.

Anak pertama dan sekaligus terakhirnya, R.M. Soesalit, lahir pada tanggal 13 September 1904. Beberapa hari kemudian, 17 September 1904, Kartini meninggal pada usia 25 tahun. Kartini dimakamkan di Desa Bulu, Kecamatan Bulu, Rembang.

Berkat kegigihannya Kartini, kemudian didirikan Sekolah Wanita oleh Yayasan Kartini di Semarang pada 1912, dan kemudian di Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon dan daerah lainnya. Nama sekolah tersebut adalah “Sekolah Kartini“. Yayasan Kartini ini didirikan oleh keluarga Van Deventer, seorang tokoh Politik Etis.

R.M Panji Sosrokartono

 

 

 

Kaum bangsawan di Belanda menjulukinya Pangeran dari Tanah Jawa. Raden Mas
Panji Sosrokartono, kakak R.A. Kartini, selama 29 tahun, sejak 1897,
mengembara ke Eropa. Ia bergaul dengan kalangan intelektual dan bangsawan
di sana. Mahasiswa Universitas Leiden itu kemudian menjadi wartawan perang
Indonesia pertama pada Perang Dunia I.

Di Indonesia, Sosrokartono mendirikan sekolah dan perpustakaan. Ia juga
membuka rumah pengobatan Darussalam di Bandung. Tempo menelusuri jejak
sang intelektual dan spiritualis ini dari orang-orang yang pernah
bersinggungan dengan Sosrokartono, juga dari berbagai bukunya, termasuk
surat- surat Kartini dan adik-adiknya, dan dari naskah pidatonya yang
masih tersimpan di Leiden.

Selama 29 tahun ia hidup melanglang Eropa. Di Bandung ia mendirikan
perpustakaan, rumah pengobatan, dan dicap komunis.
FOTO hitam putih seukuran kartu pos itu masih ia simpan rapi. Saat itu
Kartini Pudjiarto masih delapan tahun. Ia bersama ibunya RA Siti Hadiwati
dan kakeknya PAA Sosro Boesono berfoto bersama RM Panji Sosrokartono di
rumah pengobatan Darussalam di Jalan Pungkur 7, Bandung, milik
Sosrokartono.

Sosrokartono (1877-1952) adalah adik kandung Boesono. Keduanya adalah
kakak RA Kartini, pahlawan emansipasi wanita yang setiap tanggal 21 April
selalu dirayakan di seluruh pelosok Indonesia. Mereka adalah anak Bupati
Jepara Raden Mas Adipati Ario Samingoen Sosroningrat untuk periode
1880-1905 dari perkawinannya dengan Ngasirah. Pasangan ini memiliki
delapan anak.

Foto yang menjadi koleksi tak ternilai Kartini Pudjiarto itu dipotret pada
1950, dua tahun menjelang Sosrokartono wafat. Eyang Sosro, begitu Kartini
memanggil, duduk di sebuah kursi. “Eyang Sosro lebih sering duduk di
kursi, karena separuh tubuhnya sudah lumpuh,” ucapnya kepada Tempo pekan
lalu.

Ia masih ingat, setiap kali berkunjung ke rumah panggung yang dindingnya
terbuat dari bambu itu, ia selalu dicium dan diusap kepalanya. Eyang Sosro
sering berpuasa. Jika tak berpuasa, ia jarang makan. “Eyang sering hanya
minum air kelapa,” tutur Kartini.

Meski separuh lumpuh, Kartono–begitu RA Kartini dan adik-adiknya
memanggil–masih menerima ratusan tamu yang datang dengan berbagai
kepentingan, mulai dari sekadar meminta nasihat, belajar bahasa asing,
hingga mengobati berbagai macam penyakit.

Pada setiap pengobatan, Kartono biasanya memberikan air putih dan secarik
kertas bertulisan huruf Alif (singkatan dari Allah) kepada pasien. Kartini
Pudjiarto masih menyimpan lukisan sederhana berbingkai kayu yang berisi
goresan Alif di kertas putih pemberian Eyang Sosro. “Katanya buat
jaga-jaga,” ujar Kartini.

Ada pula secarik kertas putih yang berisi nasihat Eyang Sosro bertulisan
“Sugih tanpa banda / Digdaya tanpa aji / Nglurug tanpa bala / Menang tanpa
ngasorake” (Kaya tanpa harta/ Sakti tanpa azimat/ Menyerbu tanpa pasukan/
Menang tanpa merendahkan yang dikalahkan) yang ditempel dengan selotip di
dinding. Ia juga menyimpan tongkat Kartono, yang merupakan jatah warisan
keluarga yang dibagi-bagi setelah sang eyang meninggal.

Air putih, huruf Alif, nasihat-nasihat hidup yang ia tulis dalam bahasa
Jawa, dan laku berpuasa berhari-hari, adalah bagian dari “wajah mistik”
Sosrokartono, orang Indonesia pertama yang terjun ke medan peperangan di
Perang Dunia I di Eropa sebagai wartawan. Selama 29 tahun, Sosrokartono
lebih dikenal sebagai seorang intelektual yang disegani di Eropa. Ia kerap
dipanggil dengan sebutan De Javanese Prins (Pangeran dari Tanah Jawa) atau
De Mooie Sos (Sos yang Tampan).

Ia mengembara ke beberapa negara. Mula-mula ia belajar di Delft, Belanda,
lalu pindah ke Universitas Leiden, bergaul dengan kalangan bangsawan
Eropa, kemudian menjadi wartawan perang. Ia juga pernah menjadi staf
Kedutaan Besar Prancis di Den Haag, bahkan sempat menjadi penerjemah untuk
Liga Bangsa-Bangsa. Kartono pada akhirnya memutuskan
pulang ke Indonesia mendirikan perpustakaan dan sekolah. Seperempat abad
sisa umurnya kemudian ditambatkan sebagai seorang spiritualis.

Pramoedya Ananta Toer dalam Panggil Aku Kartini Saja (Hasta Mitra,
Jakarta, 1997) menggambarkan kelebihan Kartono sebagai spritualis itu.
Pram mengutip kesaksian seorang dokter Belanda di CBZ (kini RS Dr Cipto
Mangunkusumo, Jakarta) pada 1930-an. Ia menyaksikan Kartono menyembuhkan
wanita melahirkan yang menurut para dokter tak tertolong lagi, tapi sembuh
setelah minum air putih yang diberikan Kartono.

Suryatini Ganie, cucu RA Sulastri Tjokrohadi Sosro, kakak seayah
Sosrokartono, menggambarkan kelebihan Kartono yang juga kakeknya itu
sebagai orang yang mudah sekali menebak pikiran orang. Menurut pengarang
buku Resep-resep Kartini ini, Eyang Sosro cenderung menyendiri, jauh di
Bandung, dibanding berkumpul dengan keluarga yang tersebar di Jawa Tengah.

Rumah pengobatan Pondok Darussalam milik Sosrokartono merupakan rumah
panggung yang terbuat dari kayu dengan dinding bambu. Rumah itu dibangun
memanjang membentuk huruf L sepanjang Jalan Pungkur. Bangunan itu tepat
berada di depan terminal angkutan kota Kebun Kelapa sekarang.

Kini bangunan itu sudah tidak ada lagi. Penghuninya sudah berganti, begitu
juga nomor rumahnya, yang sudah memakai nomor baru yang dipakai sejak
1960-an. Pemilik ruko yang menempati Jalan Pungkur 3, 5, 7, 9 ketika
ditanya tidak tahu bahwa di jalan itu pernah ada pondok pengobatan milik
Sosrokartono. Mendengar cerita Kayanto, pondok
pengobatan milik Kartono diperkirakan menempati deretan bangunan yang kini
sudah berubah menjadi toko listrik, swalayan di Gedung Mansion, serta
sebuah apotek yang terletak di sudut Jalan Pungkur dan Jalan Dewi Sartika.

Kayanto Soepardi, 63 tahun, putra seorang asisten Sosrokartono, masih
ingat: Darussalam tak pernah sepi. Tamunya mulai dari orang Belanda,
pribumi, hingga Cina peranakan. Ia pernah melihat Bung Karno datang
menemui Kartono. Saat itu Kartono menggoreskan huruf Alif di atas kertas
putih seukuran prangko dan menyelipkannya ke dalam peci Bung Karno,
entah untuk apa. Bung Karno pula, menurut penuturan ayahandanya, kerap
datang untuk belajar bahasa kepada Sosrokartono.

Kartono, menurut Kayanto, tidak pernah lepas dari sebuah tongkat, beskap
berwarna putih lengan panjang, sebuah topi (mirip mahkota) warna hitam,
dan mengalungkan tasbih yang menggantung hingga dadanya. Janggutnya
sebagian sudah memutih, sorot matanya tajam, dan lebih banyak diam.

Darussalam, selain menjadi rumah pengobatan, juga sebuah perpustakaan.
Kartono dalam suratnya kepada Abendanon pada 19 Juli 1926 (Surat- surat
Adik R.A. Kartini terbitan PT Djambatan 2005) menceritakan selain
mendirikan perpustakaan Panti Sastra di Tegal bersama adiknya, RA
Kardinah, ia juga mendirikan perpustakaan di Bandung. “Perpustakaan ini
tidak disebut dengan nama yang lazim melainkan merupakan lambang dari
suatu pengertian baru, suatu cita-cita baru. Namanya Darussalam, yang
berarti rumah kedamaian,” tulis Kartono.

Buku-buku perpustakaan itu disumbang oleh dua orang insinyur perusahaan
kereta api Staats Spoorwegen, tiga orang partikelir bangsa Belanda, dua
orang wanita Belanda, tiga orang Jawa, dan seorang Tionghoa. “Semboyannya
tanpo rupo tanpo sworo, yang berarti tidak berwarna, tiada perbedaan,
tiada perselisihan,” ucap Kartono.

Budya Pradipta, Ketua Paguyuban Sosrokartanan Jakarta dan dosen tetap
bahasa, sastra, dan budaya Jawa Fakultas Sastra Universitas Indonesia,
mengatakan Darussalam adalah bekas gedung Taman Siswa Bandung. Kartono
diminta menempati gedung itu oleh RM Soerjodipoetro, adik Ki Hajar
Dewantara. “Eyang Sosro di sana karena diminta menjadi pimpinan Nationale
Middelbare School (Sekolah Menengah Nasional) milik Taman Siswa,” ujar
Budya.

Di perpustakaan inilah tokoh pergerakan Indonesia sering berkumpul,
termasuk Ir Soekarno. Bung Karno juga diminta mengajar di sekolah itu
bersama Dr Samsi dan Soenarjo SH. Gedung ini juga dipakai oleh Partai
Nasional Indonesia dan Indonesisch Nationale Padvinders Organisastie
pimpinan Abdoel Rachim, mertua Bung Hatta.

Kepeloporan Kartono sebagai tokoh pendidikan inilah yang hendak dikenang
Sukadiah Pringgohardjoso, mantan Duta Besar RI untuk Denmark (1981-1984).
Sukadiah kini aktif sebagai pembina Yayasan Pendidikan Anak Sehat
Sosrokartono di Cengkareng Barat, Jakarta. Yayasan ini didirikan oleh
Sosrohadikusumo, anak dari Soematri Sosrohadikusumo–adik Kartono. “Kami
lebih mementingkan hal-hal konkret: mendidik anak sesuai dengan
keinginan beliau dan mengentaskan kemiskinan,” ujar Sukadiah.

Kartono tak pernah beku. Di Belanda, selain kuliah, ia menjadi koresponden
liputan Perang Dunia I untuk koran The New York Herald, cikal bakal The
New York Herald Tribune. Agar bisa lebih masuk ke kancah perang, ia
menerima pangkat mayor dari tentara Sekutu, tapi menolak dipersenjatai.
Salah satu keberhasilan Kartono sebagai wartawan adalah
ketika berhasil memuat hasil perjanjian rahasia antara tentara Jerman yang
menyerah dan tentara Prancis yang menang perang (Baca: Wartawan Mooie dari
Hindia Belanda).

Sebagai koresponden perang, tulis Mohammad Hatta dalam Memoir, Kartono
bergaji US$ 1.250 sebulan. “Dengan gaji sebanyak itu, ia dapat hidup
sebagai seorang miliuner di Wina. Menurut cerita ia bergaul dalam
lingkungan bangsawan,” tulis Hatta.

Kartono, intelektual yang menguasai 17 bahasa asing itu, mudah diterima
kalangan elite di Belanda, Belgia, Austria, dan bahkan Prancis. Ia
berbicara dalam bahasa Inggris, Belanda, India, Cina, Jepang, Arab,
Sanskerta, Rusia, Yunani, Latin. Bahkan, “Ia juga pandai berbahasa
Basken (Basque), suatu suku bangsa Spanyol,” kata Hatta.

Dengan pengetahuan dan kecakapan berbahasa itu, Kartono memberanikan diri
menemui Gubernur Jenderal W. Rooseboom pada 14 Agustus 1899, sebelum
berangkat ke Batavia untuk memangku jabatannya yang baru. Solichin Salam
dalam Drs. RMP Sosrokartono, Sebuah Biografi (terbitan Yayasan Pendidikan
Sosrokartono, 1979) menyebutkan, dalam pertemuan
tersebut Kartono meminta kepada Rooseboom untuk benar-benar memperhatikan
pendidikan dan pengajaran kaum pribumi di Hindia Belanda.

Profesor Dr J.H.C. Kern, dosen pembimbingnya di Universitas Leiden,
kemudian mengundang Kartono untuk menjadi pembicara dalam Kongres Bahasa
dan Sastra Belanda ke-25 di Gent, Belgia, pada September 1899. Dalam
kongres yang membicarakan masalah bahasa dan sastra Belanda di pelbagai
negara itu, Sosrokartono mempersoalkan hak-hak kaum pribumi di Hindia
Belanda yang tak dipenuhi pemerintah jajahan.

Dalam pidato berjudul Het Nederlandsch in Indie (Bahasa Belanda di
Indonesia), Kartono antara lain mengungkapkan: “Dengan tegas saya
menyatakan diri saya sebagai musuh dari siapa pun yang akan membikin kita
(Hindia Belanda) menjadi bangsa Eropa atau setengah Eropa dan akan
menginjak-injak tradisi serta adat kebiasaan kita yang luhur lagi suci.
Selama matahari dan rembulan bersinar, mereka akan saya tantang!”

Keluhuran tradisi itulah yang menurut Kartono mesti dipertahankan
orang-orang pribumi di mana saja berada. Dengan cakrawala pengetahuan yang
terbuka–Kartono meminta pemerintah jajahan agar bahasa Belanda dan bahasa
internasional lain diajarkan di Hindia Belanda–kaum pribumi bisa
mempertahankan kemuliaan tradisi dan harga diri mereka.

Setelah 29 tahun melanglang Eropa sejak 1897, pangeran tampan dari tanah
Jawa itu pun pulang. Ia ingin mendirikan sekolah sebagaimana dicita-
citakan mendiang adiknya, Kartini. Ia juga ingin mendirikan perpustakaan.
Untuk
menghimpun modal, pada mulanya ia melamar menjadi koresponden The New York
Herald untuk Hindia Belanda, tapi koran itu sudah berganti pemilik dan
merger dengan koran lain.

Namun, dalam suratnya kepada Nyonya Abendanon, Kartono menyatakan
kekecewaannya. Sesampai di Jawa, ia telah dicap sebagai komunis oleh
pemerintah jajahan. “Itu merupakan bentuk fitnah yang sangat keji yang
saya rasakan, namun tidak berdaya terhadapnya,” tulis Kartono.

“Tapi kepada Anda, Nyonya yang mulia, saya bersumpah atas kubur ayah saya
dan Kartini, bahwa saya sama sekali tak pernah menganut paham komunis,
dulu tidak, sekarang pun tidak. Tidak ada yang lebih saya inginkan
daripada bekerja untuk pendidikan mental sesama bangsa saya, dalam artian
yang telah dimaksudkan oleh Kartini,” ucap Kartono.

Kartono kemudian menggalang dukungan dari kelompok pergerakan di
Indonesia. Ia menemui Ki Hajar Dewantara. Bapak pendidikan itu lalu
mempersilakan Kartono membangun perpustakaan di gedung Taman Siswa
Bandung. Ia pun diangkat menjadi kepala Sekolah Menengah Nasional di kota
ini.

Pada saat yang bersamaan, ia menyaksikan orang-orang kelaparan dan
diserang berbagai macam penyakit. Kartono pun kemudian menjalankan laku
puasa bertahun-tahun untuk merasakan apa yang juga diderita
saudara-saudaranya. Ia juga menjadikan Darussalam sebagai rumah
pengobatan.

Cerita air putih, Alif, dan wejangan-wejangan hidup dalam bahasa Jawa,
kemudian mengalir dari sini dan menjelmakan Kartono sebagai seorang
penyembuh. Walaupun tak memiliki murid, di kemudian hari Kartono memiliki
“pengikut”. Paguyuban Sosrokartanan, komunitas pencinta
Sosrokartono, kini telah ada di empat kota: Jakarta, Yogyakarta, Semarang,
dan Surabaya. Di Yogyakarta, paguyuban ini juga membuka rumah pengobatan.

Separuh badan Kartono lumpuh sejak 1942. Kartono mangkat pada 1952, tanpa
meninggalkan istri dan anak. Ia dimakamkan di Sedo Mukti, Desa Kaliputu,
Kudus, Jawa Tengah. Di sebelah kiri makam Kartono terdapat makam ibunya
Nyai Ngasirah dan bapaknya RMA Sosroningrat.

Di dinding pagar besi di makam Kartono, terpasang tulisan huruf Alif dalam
bingkai kaca seukuran 10R. Di bawahnya terdapat foto Kartono mengenakan
setelan jas ala orang Barat. Di nisan sebelah kiri, tercantum kata- kata
terpilih Kartono: Sugih tanpa banda, digdaya tanpa aji. Di nisan sebelah
kanan tercantum kalimat: Trimah mawi pasrah (rela menyerah terhadap
keadaan yang telah terjadi), suwung pamrih tebih ajrih (jika tak berniat
jahat, tidak perlu takut), langgeng tan ana susah tan ana bungah (tetap
tenang, tidak kenal duka maupun suka), anteng manteng sugeng jeneng (diam
sungguh-sungguh, maka akan selamat sentosa).

R.A Kartini

Raden Ajeng Kartini lahir pada 21 April tahun 1879 di kota Jepara, Jawa Tengah. Ia anak salah seorang bangsawan yang masih sangat taat pada adat istiadat. Setelah lulus dari Sekolah Dasar ia tidak diperbolehkan melanjutkan sekolah ke tingkat yang lebih tinggi oleh orangtuanya. Ia dipingit sambil menunggu waktu untuk dinikahkan. Kartini kecil sangat sedih dengan hal tersebut, ia ingin menentang tapi tak berani karena takut dianggap anak durhaka. Untuk menghilangkan kesedihannya, ia mengumpulkan buku-buku pelajaran dan buku ilmu pengetahuan lainnya yang kemudian dibacanya di taman rumah dengan ditemani Simbok (pembantunya).

Akhirnya membaca menjadi kegemarannya, tiada hari tanpa membaca. Semua buku, termasuk surat kabar dibacanya. Kalau ada kesulitan dalam memahami buku-buku dan surat kabar yang dibacanya, ia selalu menanyakan kepada Bapaknya. Melalui buku inilah, Kartini tertarik pada kemajuan berpikir wanita Eropa (Belanda, yang waktu itu masih menjajah Indonesia). Timbul keinginannya untuk memajukan wanita Indonesia. Wanita tidak hanya didapur tetapi juga harus mempunyai ilmu. Ia memulai dengan mengumpulkan teman-teman wanitanya untuk diajarkan tulis menulis dan ilmu pengetahuan lainnya. Ditengah kesibukannya ia tidak berhenti membaca dan juga menulis surat dengan teman-temannya yang berada di negeri Belanda. Tak berapa lama ia menulis surat pada Mr.J.H Abendanon. Ia memohon diberikan beasiswa untuk belajar di negeri Belanda.

Beasiswa yang didapatkannya tidak sempat dimanfaatkan Kartini karena ia dinikahkan oleh orangtuanya dengan Raden Adipati Joyodiningrat. Setelah menikah ia ikut suaminya ke daerah Rembang. Suaminya mengerti dan ikut mendukung Kartini untuk mendirikan sekolah wanita. Berkat kegigihannya Kartini berhasil mendirikan Sekolah Wanita di Semarang, Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon dan daerah lainnya. Nama sekolah tersebut adalah “Sekolah Kartini”. Ketenarannya tidak membuat Kartini menjadi sombong, ia tetap santun, menghormati keluarga dan siapa saja, tidak membedakan antara yang miskin dan kaya.

Pada tanggal 17 september 1904, Kartini meninggal dunia dalam usianya yang ke-25, setelah ia melahirkan putra pertamanya. Setelah Kartini wafat, Mr.J.H Abendanon memngumpulkan dan membukukan surat-surat yang pernah dikirimkan R.A Kartini pada para teman-temannya di Eropa. Buku itu diberi judul “DOOR DUISTERNIS TOT LICHT” yang artinya “Habis Gelap Terbitlah Terang”.

Saat ini mudah-mudahan di Indonesia akan terlahir kembali Kartini-kartini lain yang mau berjuang demi kepentingan orang banyak. Di era Kartini, akhir abad 19 sampai awal abad 20, wanita-wanita negeri ini belum memperoleh kebebasan dalam berbagai hal. Mereka belum diijinkan untuk memperoleh pendidikan yang tinggi seperti pria bahkan belum diijinkan menentukan jodoh/suami sendiri, dan lain sebagainya.

Kartini yang merasa tidak bebas menentukan pilihan bahkan merasa tidak mempunyai pilihan sama sekali karena dilahirkan sebagai seorang wanita, juga selalu diperlakukan beda dengan saudara maupun teman-temannya yang pria, serta perasaan iri dengan kebebasan wanita-wanita Belanda, akhirnya menumbuhkan keinginan dan tekad di hatinya untuk mengubah kebiasan kurang baik itu.

Belakangan ini, penetapan tanggal kelahiran Kartini sebagai hari besar agak diperdebatkan. Dengan berbagai argumentasi, masing-masing pihak memberikan pendapat masing-masing. Masyarakat yang tidak begitu menyetujui, ada yang hanya tidak merayakan Hari Kartini namun merayakannya sekaligus dengan Hari Ibu pada tanggal 22 Desember.

Alasan mereka adalah agar tidak pilih kasih dengan pahlawan-pahlawan wanita Indonesia lainnya. Namun yang lebih ekstrim mengatakan, masih ada pahlawan wanita lain yang lebih hebat daripada RA Kartini. Menurut mereka, wilayah perjuangan Kartini itu hanyalah di Jepara dan Rembang saja, Kartini juga tidak pernah memanggul senjata melawan penjajah. Dan berbagai alasan lainnya.

Sedangkan mereka yang pro malah mengatakan Kartini tidak hanya seorang tokoh emansipasi wanita yang mengangkat derajat kaum wanita Indonesia saja melainkan adalah tokoh nasional artinya, dengan ide dan gagasan pembaruannya tersebut dia telah berjuang untuk kepentingan bangsanya. Cara pikirnya sudah dalam skop nasional.

Sekalipun Sumpah Pemuda belum dicetuskan waktu itu, tapi pikiran-pikirannya tidak terbatas pada daerah kelahiranya atau tanah Jawa saja. Kartini sudah mencapai kedewasaan berpikir nasional sehingga nasionalismenya sudah seperti yang dicetuskan oleh Sumpah Pemuda 1928.

Terlepas dari pro kontra tersebut, dalam sejarah bangsa ini kita banyak mengenal nama-nama pahlawan wanita kita seperti Cut Nya’ Dhien, Cut Mutiah, Nyi. Ageng Serang, Dewi Sartika, Nyi Ahmad Dahlan, Ny. Walandouw Maramis, Christina Martha Tiahohu, dan lainnya.

Mereka berjuang di daerah, pada waktu, dan dengan cara yang berbeda. Ada yang berjuang di Aceh, Jawa, Maluku, Menado dan lainnya. Ada yang berjuang pada zaman penjajahan Belanda, pada zaman penjajahan Jepang, atau setelah kemerdekaan. Ada yang berjuang dengan mengangkat senjata, ada yang melalui pendidikan, ada yang melalui organisasi maupun cara lainnya. Mereka semua adalah pejuang-pejuang bangsa, pahlawan-pahlawan bangsa yang patut kita hormati dan teladani.

Raden Ajeng Kartini sendiri adalah pahlawan yang mengambil tempat tersendiri di hati kita dengan segala cita-cita, tekad, dan perbuatannya. Ide-ide besarnya telah mampu menggerakkan dan mengilhami perjuangan kaumnya dari kebodohan yang tidak disadari pada masa lalu. Dengan keberanian dan pengorbanan yang tulus, dia mampu menggugah kaumnya dari belenggu diskriminasi.

Bagi wanita sendiri, dengan upaya awalnya itu kini kaum wanita di negeri ini telah menikmati apa yang disebut persamaan hak tersebut. Perjuangan memang belum berakhir, di era globalisasi ini masih banyak dirasakan penindasan dan perlakuan tidak adil terhadap perempuan.

Buku Buku terbitan R.A Kartini :
  • Habis Gelap Terbitlah Terang
  • Surat-surat Kartini, Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
  • Letters from Kartini, An Indonesian Feminist 1900-1904
  • Panggil Aku Kartini Saja
  • Kartini Surat-surat kepada Ny RM Abendanon-Mandri dan suaminya
  • Aku Mau … Feminisme dan Nasionalisme. Surat-surat Kartini kepada Stella Zeehandelaar 1899-1903

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.